Penderita HIV/AIDS Terbanyak di Kota Gerbang Salam

Pamekasan (PWINews) - Penderita  human immunodeficiency virus dan acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di kabupaten yang menerapkan syariat Islam melalui program Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) ternyata paling banyak dibanding tiga kabupaten lain di Madura.

Berdasarkan data yang dilansir sejumlah media lokal di Madura ini, jumlah penderita HIV/AIDS di kabupaten berpenduduk 833.265 jiwa ini mencapai 117 orang terhitung mulai 2012 hingga 2015.

Perinciannya, pada 2012 sebanyak 16 penderita, 2013 sebanyak 27 penderita, 2014 sebanyak 33 penderita, dan pada 2015 tercatat sebanyak 41 warga Pamekasan menderita HIV/AIDS.

Urutan kedua adalah Kabupaten Sampang dengan jumlah penderita sebanyak 54 orang hingga 2015, dan dari jumlah itu sembilan orang diantaranya meninggal dunia, yakni pada 2013 sebanyak 3 orang meninggal, 2014 tiga orang dan pada 2015 juga tiga orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan itu.

Kabupaten Sumenep menempati urutan ketiga dalam hal jumlah penderita jenis penyakit mematikan ini, yakni sebanyak 32 orang dan sebagian diantaranya berasal dari kepulauan.

Sedangkan kabupaten dengan jumlah penderita paling sedikit ialah Kabupaten Bangkalan, yakni 17 orang dan satu diantanya meninggal dunia.

"Yang saat ini sebanyak delapan orang, terdiri dari dua perempuan dan enam orang laki-laki," kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bangkalan A. Walid Yusufi seperti dilansir situs Radarmadura.Co.Id, Juli 2016.

Tingginya angka penderita HIV/AIDS di kabupaten yang mendeklarasikan sebagai kabupaten yang menerapkan syariat Islam melalui program Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) menunjukkan bahwa label agama belum berpengaruh signifikan pada pembentukan karakter umat di Kabupaten Pamekasan. (PWI/Rangkuman Media)

BNNK: Negara Ini Bisa Hancur Akibar Narkoba

Pamekasan (PWINews) - Pegiat penanggulangan peredaran narkoba dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pamekasan Drs Ida menyatakan, negara Indonesia nantinya bisa hancur, apabila banyak masyarakat dan generasi mudanya menjadi pengguna narkoba.

"Negara bisa hancur karena narkoba. Oleh karena itu, pencegahan dan pemberantasan narkoba harus kita lakukan secara bersama-sama," katanya dalam acara sosialisasi bahaya narkoba kepada para pelajar tingkat SLTA di Balai Desa Galis, Kecamatan Galis, Pamekasan, Selasa (27/9/2016).

Narkoba, kata dia merupakan musuh bersama, karena orang yang mengkonsumsi narkoba, akan menjadi orang rusak akibat sistem syarafnya tidak bisa bekerja secara maksimal, karena terpengaruh obat-obatan itu.

Ida dalam kesempatan itu juga mengajak agar para pemuda terpelajar bisa menjadi pioner dalam pemberantasan peredaran narkoba.

Babinsa Galis Serka Adi Santoso melaporkan, sosialisasi bahaya narkoba di Balai Desa Galis itu diikuti sebanyak 20 orang pelajar SMA dan 10 orang mahasiswa dari Universitas Madura (Unira) Pamekasan yang sedang menggelar kuliyah kerja nyata (KKN) di desa itu.

Selain pelajar dan mahasiswa, sebanyak 15 orang perwakilan masyarakat desa juga ikut dalam kegiatan sosialisasi itu.

Dua anggota TNI yakni masing-masing Serka Dadang dan Praka Ayis menghadiri acara sosialisasi, termasuk empat orang anggota Polsek Galis.

Sosialisasi bahaya narkoba dalam bentuk pertemuan terbatas ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Pamekasan dalam mencegah dan menanggulangi peredaran narkoba.

"Kalau kami juga biasa menggelar sosialisasi dengan cara anjangsana bersama masyarakat," kata Serka Adi Santoso menjelaskan. (PWI/Kodim Pamekasan)

TNI-Bidan Desa Kompak Tanggulangi Demam Berdarah

Pamekasan (PWINews) - TNI dan Bidan Desa di Kabupaten Pamekasan kompak melakukan upaya penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) dengan cara melakukan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat.

Salah satunya seperti yang digelar Bidan Desa Mangar Lailatul Karima bersama Babinsa Kopka Ali Makki di desa itu, Selasa (27/9/2016).

"Demam berdarah ini bisa terjadi, apabila lingkungan kita tidak sehat. Oleh karena itu, ayo kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membiarkan adanya sarang nyamuk," kata Bidan Lailatuk Karima kepada sekitar 75 ibu-ibu yang tengah berkumpul mengikuti kegiatan sosialisasi dan posyandu di balai desa itu.

Kepada para kader posyandu dan orang tua balita yang hadir dalam kegiatan itu, Bidan Karima menjelaskan tentang pentingnya kesehatan, baik bagi anak yang masih balita maupun bagi orang tua, termasuk juga tentang bagaimana cara mencegah dan menanggulangi penyakit demam berdarah.

"Caranya dengan mengubur kaleng bekas dan membersihkan lingkungan dari genangan air termasuk juga membersihkan tempat-tempat yang sekiranya bisa dijadikan sebagai sarang nyamuk," terang bidan itu.

Kegiatan posyandu di desa ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin. Namun menjelang musim pancaroba dan mendekati musim hujan ini, Babinsa bersama bidan desa itu, sepakat untuk menggelar kegiatan bersama, mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya penyakit demam berdarah.

"Makanya pada kegiatan posyandu tadi, tema yang kita gagas adalah 'Penanggulangan Bahaya Penyakit Demam Berdarah," kata Kopka Ali Makki dalam rilis yang disampaikan kepada Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Selasa (27/9/2016) malam.

Ia menjelaskan, tugas TNI tidak hanya berperang memanggul senjata, akan tetapi juga berperang menghadapi berbagai jenis musuh masyarakat, seperti penyakit demam berdarah.

Ali menuturkan, dirinya memang tidak memiliki keahlian dalam mengobati berbagai jenis penyakit karena bukan bidang profesinya. Tapi TNI memiliki komitmen dalam upaya mengarahkan agar masyarakat bisa berprilaku hidup sehat.

Sebanyak 150 orang, terdiri dari balita 75 orang dan ibu balita 75 hadir dalam kegiatan sosialisasi penanggulangan penyakit demam berdarah itu, termasuk Kepala Dusun Gulaan Moh Imron. (PWI/Kodim Pamekasan)

Penyelundup Tembakau Jawa Terancam Denda Rp50 juta

Pamekasan (PWINews) - Warga Pamekasan penyelundup tembakau Jawa yang terjaring operasi petugas gabungan di Jalan Raya Tlanakan, Senin (26/9/2016) terancam hukuman kurungan penjara enam bulan atau denda Rp50 juta.

Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 25 Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2008 tentang Penatausahaan Tembakau Madura.

Sesuai dengan ketentuan, ancaman dengan hukuman penjara enam bulan ini, tergolong tindak pidana ringan (Tipiring). [Baca Juga: Satpol-PP Pamekasan Operasi Tembakau Jawa]

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdangan (Disperindag) Pamekasan Bambang Edy Suprapto, penyelundupan tembakau Jawa ke wilayah hukum Pamekasan ini, merupan satu dari 10 poin ketentuan tata niaga  yang tertuang dalam Perda Penatausahaan Tembakau Madura.

Selanjutnya ketentuan lainnya, masing-masing tentang izin pembelian, tanda daftar gudang, ketentuan harga dan grade tembakau, jadwal buka-tutup gudang, pelaporan jumlah pembelian tembakau oleh pabrikan dan pedagang per orangan, kemasan tembakau, dan ketentuan tentang pengambilan contoh tembakau.

Poin lainnya tentang ketentuan berat bungkus tembakau (tikar), ketentuan tera ulang timbangan yang hendak digunakan pabrikan atau pedagang per orangan, serta sanksi dan ancaman hukuman bagi pedagang yang melakukan pelanggaran tata niaga tembakau. [Baca Juga: Tim Gabungan Temukan Tembakau Jawa Masuk Pamekasan]

Sesuai dengan ketentuan, kata Bambang, perusahaan atau pedagang per orangan yang bisa melakukan pembelian tembakau di Pamekasan apabila mendapatkan izin dari Bupati Pamekasan.

"Poin ini mengacu pada Pasal 6 Perda Nomor 6 Tahun 2008 dengan ketentuan izin harus mengacu pada data-data kapan pembelian akan dimulai, jenis tembakau yang akan dibeli, serta ketentuan harga," terang Bambang.

Pada poin kedua, per orangan atau perusahaan yang hendak melakukan pembelian tembakau di Pamekasan harus memiliki tanda daftar gudang (pasal 8).

"Tanda Daftar Gudang ini dikeluarkan oleh bupati atau pejabat yang ditunjuk," katanya. 

Pada poin ketiga, meminta gudang melaporkan ketentuan harga pembelian, grade, tanggal buka dan tanggal tutup pembelian tembakau diumumkan, sehingga bisa diketahui masyarakat luas, baik masyarakat petani tembakau di Pamekasan atau masyarakat petani tembakau di Pulau Madura, pada umumnya.

"Dan jadwal buka dan tutup gudang ini juga harus dilaporkan ke Pemkab Pamekasan, dalam hal ini Disperindag selaku pelaksana teknis, tujuh hari sebelumnya," kata Bambang menambahkan. [Baca Juga: Pemilik Tembakau Jawa Digelandang ke Mapolres Pamekasan]

Ia menjelaskan, ketentuan laporan buka-tutup gudang itu, seperti yang tertuang dalam Pasal 11 ayat 1 Perda Nomor 6 Tahun 2008.

Poin selanjutnya, yakni poin enam, mengatur tentang kewajiban pembeli dalam proses sortir kualitas tembakau.

Jika dalam proses sortir tembakau mengakibatkan kemasan rusak, sedangkan tembakau dinyatakan ditolak, maka pembeli bertanggung jawab mengganti kemasan.

Contoh atau sampel tembakau yang diambil pembeli, juga tidak boleh lebih dari 1 kilogram. "Dan potongan berat tikar 2 kilogram untuk kemasan dengan berat 50 kilogram, Sedangkan untuk berat diatas 50 kilogram, potongan tikarnya 3 kilogram," terang Bambang.

Pada poin sembilan, ini menjelaskan tentang ketentuan timbangan, yakni harus telah ditera/ tera ulang tahun 2015 dan disarankan menggunakan timbangan elektronik yang telah disediakan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Pamekasan. 

Menurut Bambang, ketentuan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1982 tentang Metrologi Legal. (PWI/ Pemkab Pamekasan)

Pemilik Tembakau Jawa Digelandang ke Mapolres Pamekasan

Pamekasan (PWINews) - Pemilik tembakau Jawa yang tertangkap tim gabungan dalam operasi tembakau Jawa yang digelar di Jalan Raya Tlanakan Senin (26/9/2016) malam, akhirnya digelandang ke Mapolres Pamekasan untuk penyidikan lebih lanjut.

Selain pemilik tembakau, petugas juga menyita barang bukti 932 kilogram tembakau Jawa hasil operasi itu ke Mapolres Pamekasan.

"Jadi orang, yakni pemiliknya berikut barang buktinya langsung kami bawa ke Mapolres Pamekasan saat itu juga," kata Kasi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol-PP Pamekasan Yusuf Wibiseno kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan seusai operasi, Senin malam.

Tim Penyidik Polres Pamekasan selanjutnya akan memproses kasus itu, dengan meminta keterangan terlebih dahulu kepada sejumlah pihak terkait.

Yusuf menjelaskan, kegiatan operasi tembakau Jawa oleh Satpol-PP bersama Polres Pamekasan, Corp Polisi Militer (CPM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) itu merupakan amanah dari Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang Penatausahaan Tembakau Madura. [Baca Juga: Satpol-PP Pamekasan Operasi Tembakau Jawa]

Dalam perda itu, petugas penegak perda diminta untuk melakukan pengawasan dan pelarangan masuknya tembakau Jawa ke Madura, yakni di wilayah hukum Pamekasan.

Ketentuan tentang Pengawasan tesebut sebagaimana diatur dalam Bab XIII pasal 22 serta Bab XIV pasal 23 terkait larangan melakukan campuran tembakau Madura dengan tembakau asal luar Madura.

"Atas dasar itulah, maka pemkab membentum tim pemantau khusus, gabungan dari sejumlah instansi terkait, guna mencegah masuknya tembakau Jawa ke Pamekasan, Madura ini," terang Yusuf. [Baca Juga: Tim Gabungan Temukan Tembakau Jawa Masuk Pamekasan]

Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang Penatausahaan Tembakau Madura ini ditetapkan oleh Bupati Pamekasan Kholilurrahman kala itu, pada tanggal 23 Juni 2008 dan mulai diundangkan di Pamekasan pada 23 September 2008.

Operasi mengantisipasi masuknya tembakau Jawa oleh tim penegak perda selama musim panen tembakau kali ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Pamekasan, guna menjaga kualitas tembakau petani di Pamekasan. (PWI/Satpol-PP Pamekasan)

Tim Gabungan Temukan Tembakau Jawa Masuk Pamekasan

Pamekasan (PWINews) - Tim gabungan yang terdiri dari Satpol-PP, Polres, Corp Polisi Militer (CPM), Disperindag dan Dishutbun Pemkab Pamekasan menemukan tembakau Jawa masuk ke wilayah hukum Pamekasan dalam operasi tembakau yang digelar Senin (26/7/2016) malam.

"Temuan adanya tembakau Jawa yang masuk Pamekasan ini oleh tim yang menggelar operasi di Jalan Tlanakan," kata Kasi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol-PP Pamekasan Yusuf Wibisono dalam keterangan persnya kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Senin malam.

Tembakau Jawa yang terjaring razia petugas itu merupakan tembakau rajangan dengan jumlah sebanyak 932 kilogram. "Jadi hampir 1 ton," kata Yusuf.

Saat dicegat petugas, pemilik tembakau sempat berdalih bahwa tembakau yang dibawanya itu merupakan tembakau Madura. [Baca Juga: Satpol-PP Pamekasan Operasi Tembakau Jawa]

Namun, karena diantara tim gabungan yang diterjunkan itu ada yang ahli dalam mengetahu aroma tembakau, maka sang pemilik tembakau akhirnya tidak bisa berbuat banyak.

Operasi tembakau Jawa oleh tim gabungan Satpol-PP, Disperindag, Dishutbun, Polres dan CPM Senin (26/7/2016) itu digelar di dua titik berbeda, yakni di Jalan Raya Tlanakan dan di Jalan Proppo, Pamekasan.

"Tim yang menemukan adanya tembakau Jawa ini yang bertugas di Jalan Raya Tlanakan, sedangkan tim yang di Proppo tidak menemukan alias nihil," terang Yusuf Wibiseno. (PWI/Satpol-PP Pamekasan)

Satpol-PP Pamekasan Operasi Tembakau Jawa

Pamekasan (PWINews) - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Pemkab Pamekasan, Senin (26/9/2016) menggelar operasi tembakau Jawa di wilayah itu, guna memantau kemungkinan adanya masuknya tembakau ke Kabupaten Pamekasan.

Operasi digelar di dua titik, yakni di Jalan Raya Tlanakan dan di Jalan Raya Proppo dengan melibat petugas keamanan dari Polres Pamekasan dan Corp Polisi Militer (CPM).

"Semua personel yang kami terjunkan dalam operasi itu sebanyak 20 personel, termasuk dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan," kata Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol-PP Pamekasan Yusuf Wibisono dalam keterangan persnya kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan.

Operasi tembakau Jawa ini digelar, sebagai upaya untuk menjaga kualitas tembakau Madura, sebagaimana tertuang dalam Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang Penatausahaan Tembakau Madura.

Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang Penatausahaan Tembakau Madura ini ditetapkan oleh Bupati Pamekasan Kholilurrahman kala itu, pada tanggal 23 Juni 2008 dan mulai diundangkan di Pamekasan pada 23 September 2008.

Salah satu poinnya melarang tembakau Jawa masuk Pamekasan, dan melarang para petani mencampur tembakau Jawa dengan tembakau Madura, karena bisa merusak kualitas tembakau. (PWI/Satpol-PP Pamekasan)

Kahmi Sampang Bantu Korban Banjir

Sampang (PWINews) - Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Kabupaten Sampang, Senin (26/9/2016), menyalurkan bantuan kepada korban banjir di wilayah itu.

Jenis bantuan yang disalurkan berupa paket kebutuhan rumah tangga dan bantuan oleh Kahmi kepada warga Sampang terdampak banjir ini disalurkan di sejumlah titik di Kota itu.

Panitia bhakti sosial Kahmi Sampang Syamsul Muarif menjelaskan, paket bantuan yang disalurkan Kahmi Sampang kepada korban banjir itu, merupakan sumbangan dari alumni HMI yang ada di wilayah itu, serta sumbangan dari pihak ketiga.

Banjir melanda Kota Sampang, Madura sejak Minggu (25/9) pagi dan hingga Senin (26/9) masih berlangsung.

Banjir di Kota Bahari ini terjadi akibat luapan Sungai Kalikemuning, setelah wilayah itu diguyur hujan deras selama dua hari berturut-turut.

Awalnya banjir hanya terjadi di wilayah utara kota, yakni di Kecamatan Omben pada Sabtu (24/9), namun keesokan harinya, yakni pada Minggu (25/9) pagi meluas hingga di Kota Sampang.

Pada Senin pagi, genangan air di kota ini, nampak mulai surut dibanding Minggu (25/9).

Salah satunya seperti di Jalan Bahagia. Di lokasi ini genangan air sempat mencapai 1 meter, namun pada Senin, hanya antara 20 hingga 30 cm.

"Bantuan yang kami berikan kepada para korban banjir di Sampang ini memang tidak seberapa, tapi kami harap jangan dilihat dari jumlahnya, akan tetapi dari komitmen dan kepedulian Kahmi Sampang pada sesama," kata Syamsul Muarif yang juga Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sampang itu.

Sementara, banjir yang melanda kota Sampang ini, merendam sedikitnya 9 desa/kelurahan dan merupakan kali keempat selama kurun waktu Januari hingga September 2016 ini. (PWI/ Rilis Kahmi Sampang)

Patrich Wanggai Bakal Absen Lawan Borneo FC

Pamekasan (PWINews) - Patrich Steve Wanggai yang dipastikan bakal absen saat Madura United FC bertanding melawan Pusamania Borneo FC di Stadion Segiri Samarinda yang akan digelar 30 September 2016 ini, lantaran mengalami cidera lutut.

Pemain bernomor punggung 27 dalam skuat berjuluk laskar "Sape Kerap" itu mengalami cidera lutut kiri saat membela timnya berujicoba melawan Persik Kediri di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) Sabtu (24/9/2016).

"Kami masih akan lihat butuh berapa lama proses pemulihan Patrich (Wanggai). Yang pasti dalam minggu ini ia tidak bisa bermain," kata Pelatih Fisik dan Kepala Psycotherapi Madura United FC Oswaldo Lessa dalam rilis yang disampaikan kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Minggu (25/9/2016) malam.

Kondisi tersebut jelas dipastikan jika Patrich Wanggai absen dalam lawatan ke Samarinda, guna melakoni laga ke-21 Indonesia Soccer Championship (ISC) A. "Cidera itu didapat saat Patrich rebutan bola atas dengan pemain Persik, ia mengalami benturan hingga salah tumpuan saat mendarat," ungkapnya.

Patrich Steve Wanggai merupakan satu dari empat pemain baru Madura United FC yang merapat usai putaran pertama ISC A berakhir. Ia merupakan pemain kedua setelah manajemen resmi mendatangkan Guy Junior, disusul Firdaus Ramadhan dan Ahmad Bustomi.

Laga melawan Borneo FC, Madura United FC wajib mencuri poin guna mengamankan posisi mereka di puncak klasemen sementara ISC A. Sebab saat ini, skuat binaan Gomes de Olivera hanya unggul 1 poin dari Arema Cronus di posisi kedua. Serta selisih 3 poin dari Sriwijaya FC di peringkat ketiga klasemen. (PWI/Madura United)

Fotografer Pamekasan Jelajahi Keindahan Pantai Jumiang

Pamekasan (PWINews) - Sejumlah fotografer yang tergabung dalam Komunitas Fotografi Indonesia (KFI) Pamekasan, hunting keindahan alam di Pantai Jumiang Pamekasan, Minggu (25/9/2016).

Kegiatan tersebut sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-2 KFI Pamekasan, dimana mereka juga melibatkan sejumlah model maupun para fotografer dari berbagai wilayah di Jawa Timur.

"Dalam rangka Universary KFI Pamekasan ke-2 ini, kita sengaja mengangkat tema eksotika keindahan alam Pamekasan. Salah satunya Pantai Jumiang," kata Ketua Pelaksana Khairul Anam, seperti dilansir situs BeritaJatim.Com.

Dipilihnya pantai yang berada di Dusun Jumiang, Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu. Karena dinilai memiliki potensi alam yang cukup baik, termasuk juga untuk memperkenalka kekayaan panorama alam pariwisata daerah berslogan Bumi Gerbang Salam.

"Keindahan alam Pantai Jumiang luar biasa indah, alamnya benar-benar alami dan memberikan kesan mendalam bagi para fotografer," ungkapnya.

Pihaknya sengaja mengangkat konsep eksotika alam Pamekasan, karena dinilai cukup layak untuk diketahui publik. Termasuk juga dengan potensi lainnya. "Seperti batik, saat ini secara kontemporer sudah dikenal luas. Sehingga kami juga memilh batik sebagai properti yang digunakan model," jelasnya.

Selain itu, ia berharap agar kedepan keindahan alam Pamekasan bisa dikenal luas dan menarik minat para wisatawan. "Dengan kegiatan ini kita berharap agar keindahan alam Pamekasan bisa dikenal luas, serta bisa menarik bagi para wisatawan untuk berkunjung," harapnya.

Pada kegiatan tersebut, sejumlah fotografer berkumpul dan bersama-sama memotret keindahan alam Pamekasan. Di antaranya perwakilan dari KFI Bondowoso, Pasuruan hingga Surabaya. (PWI/BeritaJatim)

Jembatan Penghubung Desa Putus Akibat Hujan Deras

Pamekasan (PWINews) - Jembatan penghubung desa di Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan putus akibat hujan deras yang melanda wilayah itu, Sabtu (24/9/2016).

Akibatnya, jalur penghubung desa terputus, sehingga masyarakat di desa itu kesulitan untuk melintas di jembatan yang putus itu.

Babinsa Sana Laok Serda Suhermono kepada media di Pamekasan, Minggu menjelaskan, Komaril Waru telah menerjunkan sejumlah personel guna membantu memperbaiki jembatan yang putus itu.

"Kita bersama masyarakat bergotong royong memperbaiki jembatan yang putus itu," katanya.

Selain memutus jembatan penghubung desa, hujan deras yang terjadi di wilayah itu juga melongsorkan tebing, sehingga menutup akses jalan desa. (PWI/Kodim Pamekasan)

Tebing Longsor Tutup Jalan Desa Sana Laok

Pamekasan (PWINews) - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pamekasan dalam dua hari terakhir ini menyebabkan tebing di perbukitan Desa Sana Laok longsor.

Lokasi kejadian di Dusun Matabe, Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, sekitar 50 kilometer kearah utara Kota Pamekasan.

"Saat ini kami bersama masyarakat sedang bergotong royong menyingkirkan timbunan tanah yang menutup jalan raya," kata Babinsa di desa itu Serda Suhermono kepada wartawan Minggu (25/9/2016) siang.

Ia menjelaskan peristiwa tebing longsor akibat hujan deras yang mengguyur desa itu dalam dua hari terakhir ini terjadi Sabtu (24/7) sekitar pukul 17.00 WIB.

Tebing yang longsor itu sepanjang 7 meter dengan ketinggian 8 meter. Akibatnya jalan penghubung antardesa terputus.

Hujan deras ini juga memutus jembatan sepanjang 2,5 meter yang ada di desa itu.

"Kalau korban jiwa tidak ada. Hanya tebing longsor dan jembatan putus itu saja," terang Suhermono.

Selama dua hari terakhir ini, hujan deras mengguyur Kota Pamekasan dengan intensitas sedang hingga deras.

Akibatnya banyak tanaman tembakau milik petani yang siap panen terendam banjir.

Tebing longsor akibat hujan deras ini, juga terpantau di sepanjang Jalan Raya Pamekasan menuju Kecamatan Pasean, yakni mulai dari Kecamatan Kadur di Desa Pamoroh, hingga di Desa Waru, Kecamatan Waru.

Hanya saja, longsoran tebing di sepanjang jalur ini tidak sampai menutup akses jalur lalu lintas. (PWI/Kodim Pamekasan)

Kohati Komisariat STAIN Pamekasan Gelar Milad Ke-50



Pamekasan (PWINews) - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan Komisariat STAIN menggelar Orasi Ilmiah dalam rangka memperingati Milad Ke-50 Kohati, Minggu 25 September 2016 bertempat di Pendopo Ronggosukowati.

Acara tersebut mengusung tema Kohati Karya Nyata Perempuan Membangun Negeri, dengan orator Nanik Farida S.Tkom koordinator kelompok peduli penghapusan kekerasan terhadap anak dan perempuan (KEPPAK).

Menuturut Ketua Umum HMI Komiasariat STAIN Agus Sholeh, acara ini sebagai motivasi bagi para kader HMI bahawa perempuan hari ini, juga berperan aktif dalam pembangun bangsa dan negara. tegasnya.

"Kohati harus mampu mensinergikan peranannya dengan cara mengembangkan potensi kreatif, keilmuan dan sosisal budaya," tambahnya

Sementara itu Choirul Umam Ketua HMI Cabang Pamekasan dalam sambutannya menyatakan, jangan pilih jalan yang menurun dan mendatar tetapi pilih jalan yang menanjak agar menggapai puncak impian. terangnya

"Sebagai organisasi perjuangan, jangan pilih jalan yang menurun apalagi mendatar tetapi pilih yang menanjak agar  menggapai puncak impian, Oleh karena itu keberadaan Kohati sebagai motivasi untuk merawat bangsa indonesia," tegasnya

Bupati Pamekasan Drs Ahmad syafi'e menuturkan saya bangga dan cinta HMI, selain itu berpesan aktivis harus senantiasa berkomunikasi dengan baik, membaca dan berperan aktif dalam kehidupan sosial dan juga berharap adanya hubungan komunikasi yang harmonis antara alumni dan para kader HMI. terangnya.(Rilis Kohati)   

Berita M Syafii Paling Banyak Dikunjungi Nitizen

Pamekasan (PWINews) - Berita tentang pencatutan nama PWI oleh warga bernama M Syafii asal Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan termasuk kategori berita paling banyak dikunjungi masyarakat pengguna internet di situs news.pwipamekasan.com dalam beberapa hari terakhir ini.

Berita tentang pencatutan nama PWI menempati rangking teratas dibanding berita-berita lainnya, termasuk berita olahraga yang selama ini memang paling digemari pembaca media online.

"Ini menunjukkan bahwa pencatutan nama PWI pada manten putrinya di Syafii, memang menarik. Mungkin dianggap unik, karena menggelar manten lalu mencatut nama PWI dan menyebarkan undangan kepada semua pejabat," kata Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz di Pamekasan, Jumat (23/9/2016) malam.

Berdasarkan data statistik blog PWI di situs news.pwipamekasan.com hingga sekitar pukul 23.50 WIB, Jumat malam, sejak adanya pemberitaan pencatutan nama PWI pada undangan pernikahan itu, statistik kunjungan blog organisasi profesi wartawan Pamekasan meningkat hingga 100 persen lebih.

Biasanya dalam sehari hanya antara 700 hingga 800 pengunjuk, sejak adanya berita pencatutan nama PWI oleh M Syafii itu, hingga hingga mencapai 1.900 pengunjung lebih dalam, dan jumlah ini tergolong banyak untuk kategori blog.

Berita paling banyak dibaca pengunjung ialah berita berjudul "PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Catut Nama PWI", lalu "PWI Jatim: Tak Ada Pengurus Bernama Syafii" dan terbanyak ketiga berita berjudul rilis PWI berjudul "PWI Minta Masyarakat Hati-hati dengan M Syafii".

Hingga pukul 23.50 WIB terdata, berita berjudul "PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Catut Nama PWI" itu telah dibaca sebanyak 1.460 kali, berita berjudul "PWI Jatim: Tak Ada Pengurus Bernama Syafii" dibaca sebanyak 1.029 kali dan berita berjudul "PWI Minta Masyarakat Hati-hati dengan M Syafii" dibaca sebanyak 961 kali.

Ketua PWI Abd Aziz menyatakan, pihaknya akan terus menyampaikan sosialisasi tentang pencatutan nama PWI yang telah dilakukan oleh M Syafii itu kepada publik, agar masyarakat mengetahui fakta yang sebenarnya. [Baca Juga: Kades Pamekasan Dorong Proses Hukum Pencatutan PWI]

Apalagi, sambung dia, respon publik terkait pemberitaan M Syafii itu sangat bagus, dan didukung oleh para pengguna internet (nitizen).

"Mulai pekan depan ini, kami akan menggerakkan semua anggota dan pengurus PWI untuk mensosialisasi tentang pencatutan yang dilakukan M Syafii ini melalui jejaring sosial mereka masing-masing, karena terus terang tindakan yang dilakukan M Syafii itu seolah telah menciderai marwah organisasi, yakni menggunakan label organisasi untuk kepentingan pribadi, apalagi dia memang bukan anggota PWI," kata Perwarta Perum LKBN Antara wilayah Madura ini, menegaskan. (PWI Pamekasan)

Pemain Persepam-Perssu Saling Adu Jotos

Pamekasan (PWINews) - Pemain Persepam Madura Utama dengan Perssu Super Madura dalam laga uji coba bertajuk "Derby Madura" di Stadion A Yani Sumenep, Jumat (23/9/2016) berlangsung ricuh, bahkan kedua pemain kedua kesebelasan itu saling adu jotos.

Wartawan MediaMadura.Com di lokasi kejadian melaporkan, keributan dalam laga uji coba itu saat kick off baru berjalan semenit. Lalu benturan keras terjadi antara pemain Perssu Joko Prayitno dengan pemian Persepam Idrus, hingga keduanya terkapar.

Saat itu juga kedua tim memanas. Belum reda tensi panas akibat benturan antarpemain, klise kembali terjadi, kali ini melibatkan Bakori dan M. Zainuri yang kemudian berujung saling pukul antarpemain.

Tidak hanya pemain, official dan penonton juga ikut berjubel dalam kericuhan yang diawali dari benturan antar para pemain itu.

Manajemen Persepam Madura Utama (P-MU) mengungkapkan kekecewaan lantaran pertandingan uji coba timnya dengan Perssu Super Madura berakhir ricuh.

"Yang jelas saya menyayangkan (insiden kericuhan), karena ini 'Derby Madura' yang seharusnya kita bermain selayaknya bermain sepak bola, tapi disini bukan cuma keras tapi sudah menjurus kasar,” kata Asisten Manajer Persepam Madura Utama Nadi Mulyadi dalam keterangan persnya kepada media.

Nadi menyebut, kericuhan terjadi akibat adanya pelanggaran keras yang dilakukan pemain lawan terhadap pemainnya, lalu kemudian ditambah dengan aksi pemukulan sehingga emosi timnya terpancing.

“Karena ada insiden itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan, sebab dampaknya juga tidak baik, terutama bagi tim,” jelasnya.

Menurut Nadi, antara manajemen kedua tim sebetulnya seiring dan sejalan serta tidak ada masalah. Kata dia, insiden terjadi hanya karena adanya gesekan di lapangan.

Di sebagian pendukung Persepam muncul dugaan, kekisruhan dalam laga uji coba antara Persepam dengan Perrsu itu terjadi karena instruksi pelatih.

Namun Pelatih Perssu Super Madura Salahudin membantah telah memberikan intruksi tidak benar terhadap pasukannya.

"Dari awal tidak ada intruksi untuk bermain seperti ini, saya bilang ke anak-anak, semangat bertanding boleh, tapi jangan bermain ngawur," kata Salahudin.

Salahudin menegaskan, dirinya juga tidak pernah menganggap uji coba itu sebagai adu kekuatan, melainkan hanya melihat kondisi pemain dan mematangkan strategi tim menjelang babak 16 besar ISC B awal bulan depan.

"Kita sama-sama tahu ini kan tim satu bapak, keuntungan uji coba ini untuk kedua tim, lebih-lebih untuk Perssu, karena Persepam MU adalah tim berpengalaman," tegasnya. (PWI/Berita Media)

PWI Minta Masyarakat Hati-hati dengan M Syafii

Pamekasan (PWINews) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan meminta masyarakat di wilayah itu berhati-hati dengan warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan.

"Ini penting kami sampaikan karena orang ini mengaku sebagai pengurus PWI Jatim, padahal menjadi anggota PWI saja tidak dan dia memang bukan anggota PWI," kata Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz kepada wartawan di Pamekasan, Kamis (22/9/2016) malam.

Aziz mengamukakan hal ini menyusul tersebarnya surat undangan pernikahan Wulan Sari dengan Doni Demara pada 18 September 2016.

Dalam undangan yang tersebar luas di kalangan pejabat di lingkungan pemkab dan anggota DPRD Pamekasan itu orang tua Wulan Sari itu, yakni M Syafii mencantumkan dirinya sebagai Kepala Perwakilan Media Hukum dan Kriminal Borgol PWI Jatim.

Padahal yang bersangkutan bukan pengurus PWI dan yang PWI tidak memiliki anggota bernama M Syafii.

Abd Aziz menjelaskan, sejak undangan itu tersebar luas, pengurus PWI Pamekasan juga berupaya menghubungi nomor telepon yang tercantun di undangan pernikahan putrinya itu, yakni di nomor 087-701-923-002 dan 082-333-508-440, namun tidak pernah diangkat.

"Hingga kini kami terus berupaya menghubingi M Syafii ini, guna mempertanyakan maksud mencatut nama PWI di undangan pernikahan putrinya itu," kata Aziz.

Pewarta Perum LKBN Antara ini menyatakan, pihaknya khawatir nama PWI selama ini sering dicatut oleh yang bersangkutan untuk hal-hal yang menyudutkan nama baik organisasi profesi wartawan itu.

"Saya khawatir saja selama ini nama PWI sering dicatut. Misalnya saja, dia datang ke sekolah-sekolah, atau ke desa-desa, lalu melakukan perbuatan yang menurut etika moral profesi jurnalistik justru dilarang," kata Aziz.

Secara kelembagaan, kata dia, PWI perlu menyampaikan kepada publik terkait pencatutan nama PWI dan klaim sebagai pengurus PWI Jatim oleh M Syafii itu, karena hal itu menyangkut marwah organisasi. [Baca Juga: PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Mencatut Nama PWI]

"Etika organisasi, tidak dibenarkah membawa-bawa nama organisasi untuk kepentingan pribadi, seperti manten. Apalagi yang bersangkutan memang bukan anggota PWI," katanya, menambahkan.

Undangan resepsi pernikahan yang mencatut nama PWI ialah pernikahan antara Wulan Sari putri dari pasangan suami istri M Syafii-Sumini warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan dengan Doni Demara putra pasangan suami istri Moh Soleh-Subaidah, Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan.

Dalam undangan yang tersebar luas di masyarakat itu dijelaskan, bahwa pesta pernikahan keduanya digelar pada 18 September 2016 pukul 08.00 WIB pagi di Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, yakni di rumah M Syafii yang mencatut nama PWI itu. (PWI Pamekasan)

Poskes Kodim Gelar Konsultasi dan Pelayanan Kesehatan

Pamekasan (PWINews) - Poskes Kodim 0826 Pamekasan memberikan layanan konsultasi dan dan pemeriksaan kesehatan gratis kepada para istri anggota TNI di Makodim Pamekasan, Rabu (21/9/2016).

Sebanyak 130 orang yang terdiri dari ibu-ibu istri prajurit TNI yang tergabung organisasi Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 45 Kodim Pamekasan beserta para Danramil dan anggota polisi milir memanfaatkan layanan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar seusai pertemuan rutin organisasi itu.

Dandim Letkol Inf Nuryanto dalam sambutannya menyatakan, menjaga kesehatan sangat penting dalam menopang tugas, baik sebagai abdi negara, maupun dalam kehidupan keluarga.

"Jaga Kesehatan, sehat itu mahal," kata Dandim.

Ia meminta agar hadirin memperhatikan paparan tentang proses penanganan kesehatan yang disampaikan oleh Pembinaan Kesehatan yakni dr Husein selaku Kepala Poskes Kodim 0826/Pamekasan.

Dandim dalam kesempatan itu juga mengingatkan anggota Kodim 0826 Pamekasan, bahwa selain melaksanakan tugas yang diamanahkan negara, juga perlu adanya pembinaan rumah tangga.

Dandim mengharapkan ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana mengisi waktu luang dengan mencari kegiatan positif, diprioritaskan pada mendidik anak, serta senantiasa bersyukur dengan penghasilan suaminya.

"Mari kita juga senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT), selalu berdoa untuk kelancaran tugas suami dan kesuksesan dalam rumah tangga," ucap Dandim.

Sementara Kepala Poskes Kodim dr Husein menjelaskan pentingnya kesehatan diawali pada tingkat paling dasar yaitu dengan menjaga pola makanan.

"Apabila ada gejala sakit segera periksa ke Poskes Kodim 0826/Pamekasan," katanya.

Ia juga menjelaskan, manfaatkan kartu BPJS Kesehatan yang kini telah dimiliki semua anggota dan keluarga prajurit TNI di Makodim Pamekasan.

Menurut dia, kartu BPJS Kesehatan dapat digunakan dalam pemeriksaan di Poskes maupun di Rumah Sakit.

"Nah, bagi keluarga TNI atau PNS yang akan melaksanakan pemeriksaan di Poskes Kodim 0826/Pamekasan harus membawa membawa kartu BPJS Kesehatan," tuturnya.

Apabila dalam pemeriksaan kesehatan tingkat pertama di poskes tidak mampu akan diberikan rujukan ke rumah sakit umum.

Hadir pula dalam acara itu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 45 Kodim 0826 Pamekasan Ny. Nuryanto beserta jajaran pengurus, Kasdim 0826/Pamekasan Mayor Inf Atjep Hindarsjah, Para Danramil dan Perwira Staf Kodim 0826/Pamekasan, Tim Kesehatan Poskes Kodim 0826/Pamekasan dr Husein beserta 3 org anggota, serta anggota polisi militer yang semuanya 130 orang. (PWI/Kodim Pamekasan)

Polres Gelar Lomba Foto Berhadiah Jutaan Rupiah

Pamekasan (PWINews) - Polres Pamekasan menggelar lomba foto dan vedio bagi jurnalis di wilayah itu dengan menyediakan hadiah jutaan rupiah.

"Lomba ini kami gelar dalam rangka HUT Ke-61 Polisi Lalu Lintas," kata Kapolres Pamekasan AKBP Nuwo Hadi Nugroho kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Rabu (21/9/2016).

Objek foto dan vedio yang dilombakan itu adalah aktivitas polisi di lapangan saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Foto dan vedio itu harus diserahkan kepada panitia lomba paling lambat 30 September 2016 ke Mapolres Pamekasan.

Untuk file foto, bisa dikirim ke alamat email: pidpolrespamekasan@gmail.com. "Kategori lomba ini nantinya akan kami pilah menjadi dua, yakni tentang citra polisi dan kritik untuk polisi," kata Kapolres Nuwo Hadi Nugroho, menjelaskan. 

Selengkapnya berikut brosur tentang lomba foto dan vedio yang digelar Polres Pamekasan: 
(PWI/ Polres Pamekasan)

Babinsa dari Pertanian, Resolusi Konflik Hingga Posyandu

Pamekasan (PWINews) - Peran TNI di tengah-tengah masyarakat sungguh sangat dirasakan. Hampir semua kegiatan masyarakat, abdi negara ini selalu hadir melakukan pendampingan. Mulai dari pertanian, resolusi konflik, hingga pelayanan pos terpadu.

Mereka tidak ahli dalam bidang pertani, tapi komitmen mensukseskan di bidang pertanian tidak perlu diragukan. Mereka juga tidak memiliki pengetahuan cukup tentang gizi dan kesehatan balita, tapi upaya mendorong masyarakat agar bayinya sehat, bebas penyakit, menjadi komitmen sang prajurit.

Inilah yang selalu dilakukan para abdi negara di Pamekasan. Salah satunya seperti yang digelar Babinsa Teja Barat, Kecamatan Pamekasan Serda Ramli, Selasa (20/9/2016).

Serda Ramli melakukan bidan desa itu, yakni Devi dalam kegiatan imunisasi dan penimbangan balita di posyandu Dusun Tengah. Layaknya dokter spesialis anak, pria berbadan tegap ini ikut menghibur anak-anak yang ikut kegiatan posyandu.

Pandangan Ramli sangat sederhana, yakni generasi muda bangsa yang berkualitas nantinya, apabila balita yang saat ini ada sehat, dan bebas penyakit.

"Ini juga bagian dari upaya memperkuat bangsa ini, melalui calon generasi muda bangsa yang masih balita ini," katanya.

Sekitar 50 balita hadir mengikuti program posyandu yang digelar di Dusun Tengah, Desa Teja Barat, Kecamatan Pamekasan itu.

Selain di Desa Teja Barat, pendampingan oleh Babinsa dalam program posyandu, Selasa (20/9/2016) juga digelar di Dusun Morlaok, Desa Majungan, Kecamatan Pademawu Pamekasan.

Posyandu yang digelar di balai desa setempat itu diikuti sebanyak 70 balita. "Wah ini lumayan banyak yang hadir. Tolong dipertahankan untuk kegiatan selanjutnya ya ibu-ibu," pesan bidan Desa Majungan Tri Yulistiawati.

Pendampingan program posyandu juga dilakukan oleh Babinsa Betet Sertu Mansur pada bidan desa Yusita dalam rangka imunisasi campak/polio dan penimbangan balita yang diikuti 20 balita di desa itu.

Menurut Pasi Intel Kodim 0826 Pamekasan Kapten Darminto, hakikat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak hanya dengan perang senjata, akan tetapi juga mempersiapkan hal-hal penting di masyarakat, termasuk memperkuat calon generasi muda bangsa yang berkualitas dan sehat.

"Perang dalam bentuk kontak senjata sekarang kan sudah tidak ada. Tapi perang dalam banyak hal selain kontak senjata masih terjadi, termasuk perang melawan kekurangan giri, dan penyakit. Makanya, tugas TNI mendampingi bidan mensukseskan posyandu bagian dari perang masa kini," katanya, menjelaskan.

Tidak heran jika TNI selalu berbaur dengan masyarakat. Kadeng menjadi petani, pendorong mobil mogok, hingga menjadi perawat balita bersama para bidan desa. (PWI/Kodim Pamekasan)

Pemerintahan Desa di Pamekasan Kembali Aktifkan Siskamling

Pamekasan (PWINews) - Sebagian pemerintahan desa di Kabupaten Pamekasan kini kembali mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (siskamling) sebagai upaya untuk meningkat pengamanan dan menekan terjadinya tindak pidana pencurian.

Salah satunya seperti yang digelar di Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Pamekasan pada 19 September 2016.

Upaya mengaktifkan kembali siskamling di desa ini dengan membentuk Linmas, dan diharapkan mereka bisa membantu tugas-tugas Babinsa di desa itu.

"Kepala Desa Pagendingan Hj Rahmawati memimpin langsung pembentukan Linmas di Desa Pagendingan itu," kata Babinsa di desa itu Serda Sulyadi kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Selasa (20/9/2016).

Di desa ini ada sebanyak 15 personel baru Linmas dibentuk, dengan tujuan untuk membantu meringankan tugas-tugas aparat dalam menjaga situasi keamanan desa.

"Terus teras kalau hanya Babinsa dan Babinkamtibmas, kita tidak mampu. Diharapkan dengan adanya peran Linmas ini, jangkauan pengawasan keamanan bisa lebih luas," kata Babinsa Serda Sulyadi menjelaskan. (PWI/Kodim Pamekasan)

STIKES Ngudia Husada Praktik di Pamekasan

Pamekasan (PWINews) - Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Ngudia Husana menggelar praktik profesi Ners Keperawatan di Kabupaten Pamekasan, selama 40 hari kedepan di Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan.

"Babinsa kami tugaskan untuk melakukan pendampingan selama praktik berlangsung agar mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan tenang dan merasa aman disana," kata Pasi Intel Kodim 0826 Pamekasan Kapten Darminto dalam rilis yang disampaikan kepada wartawan di Pamekasan, Selasa (20/9/2016) malam.

Ia menjelaskan, pembukaan praktik profesi ners keperawatan itu telah digelar Senin (19/9/2016) sekitar pukul 10.30 WIB di Balai Desa Tentenan Timur.

Terdapat 31 orang mahasiswa terdiri dari 24 dan 7 orang putri yang mengikuti praktik itu.

Camat Larangan, kepala puskesmas, serta kepada desa, berikut Babinsa dan Babinkamtibmas hadir dalam acara pembukaan itu, berikut dua orang dosen, yakni Agus Leo S.kep dan Nur Faidatil Laili S.kep. (PWI/Kodim Pamekasan)

Dandim: Menang Kalah dalam Kompetisi Biasa

Pamekasan (PWINews) - Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto menyatakan, menang dan kalah dalam sebuah kompetisi merupakan hal yang biasa, sehingga, harus dikedepan sikap sportif dan jujuran.

"Sportivitas harus diutamakan dan jujur serta supporter agar menerima dengan bangga baik, menang maupun kalah karena ini kompetisi. Pasti ada yang kalah dan ada yang menang," katanya saat membuka turnamen Volly Ball Dandim Cup 2016, Sabtu (19/9/2016).

Turnamen Volly Ball Dandim Cup 2016 kali ini diikuti perwakilan tim volly ball dari 31 tim pria dan 12 tim perempuan dengan jumlah total pemain sebanyak 43 orang.

Menurut Dandim, tujuan turnamen Dandim Cup 2016 untuk mencari bibit pemain bagus yang ada di Pamekasan dan sebagai tempat mencari hiburan serta untuk menjalin silaturrahmi kepada seluruh masyarakat sehingga menambah tali persaudaraan.

Dandim bertindak inspektur upacara dalam acara pembukaan itu, dengan komandan upacara Danramil Galis Kapten Inf Joelian Triwahjoko.

Hadir pula dalam acara pembukaan itu, Kapolres Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho, Bupati Pamekasan Acmad Syafii, para Danramil dan staf Kodim 0826 Pamekasan. 

Peserta upacara pembukaan Dandim Cup 2016 ini terdiri dari 2 SST personel Kodim 0826 Pamekasan, 1 SST perwakilan Tim Volly, dan 1 SST perwakilan tim wasit.

Menurut Ketua Panitia Turnamen Dandim Cup 2016 Kapten ARH Ariman Aditiawan, turnamen Volly Ball Dandim Cup 2016 ini juga sebagai wujud kepedulian TNI akan kemajuan dunia olahraga di Pamekasan.

Dalam acara itu juga dilakukan penyerahan piala bergilir dari juara bertahan Tim Halilintar kepada Komandan kodim 0826/Pamekasan. Kemudian dilanjutkan acara penyerahan bola secara simbolis kepada perwakilan tim wasit yakni Sukirman.

Tepat pukul 15.45 WIB pernyataan pembukaan Open Turnamen Dandim Cup VI resmi dibuka oleh Dandim 0826 Letkol Inf Nuryanto dan dilanjutkan dengan pertandingan bola Volly antara Tim Halilintar-Galis melawan Tim Denpas-Waru. (PWI/Kodim Pamekasan)

PWI Pamekasan Kecam Kekerasan Wartawan Bangkalan

Pamekasan (PWINews) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Madura, mengecam tindak kekerasan yang menimpa wartawan Jawa Pos Radar Madura Biro Bangkalan Ghinan Salman.

Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz mengatakan, apapun alasannya kekerasan merupakan bentuk perbuatan melanggar hukum, sehingga kasus itu harus diusut tuntas.

"Solidaritas atas kasus kekerasan pada teman wartawan di Bangkalan ini, harus kita galang, karena bagaimanapun kita ini bekerja dilindungi oleh undang-undang," kata Abd Aziz, Selasa (20/9/2016).

Wartawan Jawa Pos Radar Madura Biro Bangkalan Ghinan Salman diduga dipukul oknum pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Dinas PU Bina Marga setempat, sekitar pukul 09.00 WIB saat bertugas.

Abd Aziz menyatakan, kasus kekerasan seperti yang menimpa wartawan Radar Madura Biro Bangkalan itu, menunjukkan bahwa semangat taat hukum masih rendah dan seolah menunjukkan bahwa hanya dengan cara kekerasan persoalan bisa terselesaikan.

"Kita belum memahami penyebab sebenarnya kasus pemukulan wartawan di Bangkalan itu. Tapi yang jelas, kekerasan dalam bentuk apapun merupakan perbuatan terlarang," katanya.

Jika, sambung Aziz, kasus pemukulan yang menimpa Ghinan itu terkait pemberitaan, maka seharusnya mengacu kepada ketentuan perundang-undangan yang sudah ada, yakni sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bukan dengan cara kekerasan. (PWI Pamekasan)

Ratusan Burung Bersaing dalam Kontes Suara Indah

Pamekasan (PWINews) - Sedikitnya 156 ekor burung perkutut bersaing dalam lomba suara burung terindah dalam kontes burung berkicau se-Madura yang digelar di Desa Banyubulu, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Sabtu (17/9/2016).

"Kontes suara terindah burung berkicau ini digelar dalam rangka menjalin silaturrahim antara pecinta burung perkutut se-Madura," kata Ketua Paguyuban Burung Berkicau Pamekasan Suadi.

Kontes burung berkicau ini terselenggara berkat kerja sama antara Paguyuban Burung Berkicau dengan Koramil 03 Proppo, Pamekasan.

"Ini juga bagian dari komunikasi sosial, yakni memfasilitasi apa yang menjadi kegemaran masyarakat Pamekasan," kata Danramil Proppo Kapten Inf Sumarhadi dalam rilis yang disampaikan kepada Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Minggu (18/9/2016).

Berikut hasil lomba burung berkicau se-Madura yang digelar di Desa Banyubulu, Kecamatan Proppo, Pamekasan"

Juara Senior
1. Nama burung Krisna milik Suja'i Pamekasan
2. Nama burung Pangli milik Youpang Pamekasan
3. Nama Burung Arjuna milik Hekki Sampang

Juara bebas
1. Nama burung Idamanku milik Saifullah Pamekasan
2. Nama burung Sabar  milik Subar  Pamekasan
3. Nama burung Yupiter milik Abd Rahman Pamekasan

Juara Setengah Tiang
1. Nama burung Panglima milik Youpang. Pamekasan
2. Nana burung Matsaleh milik K.Wasid Pamekasan
3. Nama burung Raja milik Saiyadi  Pamekasan. (PWI/Kodim Pamekasan)

Fenomena Musik Dugem pada Malam Takbiran

Oleh: Achmad Muhlis
Perayaan malam takbiran merupakan sebuah momentum penting dimana seluruh alam semesta akan terdengar "Allahu Akbar" karena seluruh pelosok bumi mengumandangkan takbir dan tahmid, untuk mengagungkan sang khaliq pencipta alam semesta. Sungguh malam yang sangat istimewa, malam yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam yang "taat". 

Malam takbiran hanya dapat dirayakan dua kali dalam setahun, Pertama, terjadi di penghujung bulan suci Ramadhan yang juga menjadi pertanda telah berakhirnya ibada puasa yang berarti pula telah tiba hari kemenangan yaitu hari Raya Idul Fitri. Hari yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh umat muslim di dunia, tidak terkecuali di Madura. 

Kedua, malam takbiran terjadi pada malam tanggal 10 Dzulhijjah yang juga dikenal 'yaumun nahri', disaat itu umat muslim seluruh didunia sedang atau siap-siap untuk melakukan lontar jumroh aqabah, setelah melakukan wukuf di Arofah dan mabit di Muzdalifah. 

Dalam merayakan malam tersebut ada begitu banyak macam cara yang biasa dilakukan mulai dari takbir keliling dengan pawai mengililingi penjuru kota menggunakan kendaraan mobil yang dilengkapi dengan hiasan lampu kelap kelip, tidak mau ketinggalan juga motor beriringan dengan knalpot yang dinyaringkan yang membuat bising telinga sambil mengumandangkan takbir dan tahmid dengan menggunakan pengeras suara, takbir berjamaah disetiap masjid-masjid, musholla sampai dengan membuat acara sederhana "kumpul-kumpul", bersenda gurau dan lain-lain di rumah bersama keluarga tercinta. 

Malam takbiran ini biasanya juga ditandai dengan terdengarnya suara gemuruh berbagai jenis petasan, meriam bambu, kembang api dan lain-lain serta seluruh kota maupun desa akan diterangi dengan cahaya ledakan petasan, kembang api atau pun meriam bambu yang menyinari indahnya langit ketika malam takbiran itu tiba.

Baru-baru ini malam takbiran dikota GERBANG SALAM juga mulai diramaikan dengan musik DUGEM (dunia gemerlap) yang menggunakan sound system besar dipinggir jalan dengan alunan music rok, DJ dan lain-lain, serta dilengkapi dengan joget erotis, yang pada malam itu sudah tidak lagi menggambarkan malam takbiran yang penuh hikmah, malam yang sakral, malam yang ditunggu-tunggu umat Islam untuk meningkatkan kualitas keimanannya dengan bertakbir dan bertahmid, itu terjadi karena ulah sekelompok kecil masyarakat yang tidak atau belum paham akan makna, dan esensi malam takbiran yakni untuk bertakbir dan bertahmid bukan untuk hura-hura, apalagi dengan cara-cara yang tidak etis, melanggar norma dan adat ke-timur-an yang dapat merubah makna substantif malam takbiran dengan diperdengarkannya music ala DUGEM (dunia gemerlap). 

Hal itu sangat menyakitkan dan "menyesakkan dada"  umat Islam yang "taat" akan aturan dan norma agamanya karena pada malam itu seharusnya dimanfaatkan untuk mengangungkan sang khaliq dengan cara memperbanyak takbir dan tahmid baik ditempat ibadah maupun dijalan-jalan, tetapi kenapa fenomena itu terjadi terus menerus, sehingga dibenak penulis muncul beberapa pertanyaan yang cukup serius untuk disampaikan, apakah pemerintah sudah tidak lagi memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan fenomena ini? apakah sudah tidak ada lagi yang peduli dengan etika, adat dan norma? lalu siapa yang harus dan bisa menghetikannya? atau memang ada hal lain yang lebih penting untuk diselesaikan? atau fenomena music DUGEM pada malam takbiran ini, dianggap hal “biasa” dan dianggap tidak mempengaruhi apa-apa terhadap pembentukan karakter generasi penerus bangsa? atau pemerintah takut dianggap tidak populer? berbulan-bulan pertanyaan ini muncul dan timbul, karena penulis tidak memiliki wewenang dan otoritas yang cukup memadahi untuk menghentikannya, kecuali hanya dengan tulisan "opini" ini.

Padahal menurut pandangan penulis, pemerintah memiliki kekuasaan, memiliki otoritas “memiliki segalanya” untuk menghentikannya. Talcott Parsons sebagaimana dikutip oleh Mariam Budiardjo , yang cenderung melihat kekuasaan sebagai senjata yang ampuh untuk mencapai tujuan-tujuan kolektif dengan jalan membuat keputusan-keputusan yang mengikat didukung dengan sanksi negatif. 

Dalam perumusannya, Talcott Parsons mengatakatan, bahwa kekuasaan adalah kemampuan untuk menjamin terlaksananya kewajiban-kewajiban yang mengikat, oleh kesatuan-kesatuan dalam suatu sistem organisasi kolektif. Kewajiban adalah sah jika menyangkut tujuan-tujuan kolektif. Jika ada perlawanan, maka pemaksaan melalui sanksi-sanksi negatif dianggap wajar, terlepas dari siapa yang melaksanakan pemaksaan itu . 

Teori ini dimungkinkan oleh pemerintah (para pembuat kebijakan) dijadikan dasar untuk “menekan, memaksa dan menghentikan“ fenomena music DUGEM pada malam takbiran yang dilakukan oleh sekelompok kecil masyarakat yang  dapat "mengganggu" sakralitas malam takbiran dibumi gerbang salam ini.

Apakah hanya pemerintah yang memiliki kewajiban “kekuasaan dan otoritas” untuk mengubah fenomena baru ini yang melenceng dari aturan syariat agama? Tokoh Masyarakat, juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya untuk berusaha meluruskan, fenomena music DUGEM pada malam takbiran ini. Apakah para orang tua juga tidak punya kewenangan untuk menghentikan fenomena music DUGEM  pada malam takbiran? Sejogyanya orang tua merupakan unsur terdekat dan terpenting dalam merubah pola pikir, prilaku dan paradigma masyarakat disekitarnya.

Fenomena ini akan terjadi terus menerus tanpa henti dan berkelanjutan, jika ada pembiaran dari pihak-pihak tertentu yang memiliki kewajiban, kewenangan dan otoritas untuk menertibkan dan mengarahkan sekelompok kecil masyarakat ini ke dalam sebuah kegiatan yang lebih bermakna, bermartabat dan mendidik. Hal ini sejalan dengan teori exchange, secara garis besar dapat dikembalikan kepada tiga proposisi George Homan  berikut: Pertama, jika tingkah laku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku atau kejadian yang mempunyai hubungan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi atau dilakukan. 

Ini artinya jika fenomena musik DUGEM dibiarkan atau ada pembiaran oleh pemerintah, tokoh masyarakat ataupun orang tua, maka fenomena ini akan terjadi terus menerus tanpa henti dan tanpa ada ujungnya serta terus akan berkembang pada fenomena lainnya, naudzubillah min dzalik. Karena ketiganya (pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua) memiliki kewenangan dan otoritas yang sama untuk mengarahkan atau mengalihkan atau merubah menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih produktif, bermakna dan mendidik. 

Proposisi George Homan yang Kedua adalah, Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya. 

Artinya jika fenomena musik DUGEM ini dianggap sebagai penyimpangan etika, adat dan dianggap melenceng dari norma agama, sehingga semua pihak baik pemerintah, tokoh masyarakat mapun orang tua sama-sama memberikan sanksi moral “sosial”, misal, orang tua melarang anaknya terlibat dalam fenomena ini, tokoh masyarakat dengan kewenangan dan otoristasnya juga melarang untuk tidak melakukan serta membuyikan musin DUGEM dimalam takbiran, pemerintah juga menyiapkan regulasi untuk mengantisipasinya atau menerapkan perdanya dengan tegas dan bijaksana sesuai dengan kewengan dan otoritasnya jika sudah ada regulasi. Sedangkan Proposisi George Homan yang Ketiga adalah, Makin dirugikan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, makin besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi. 

Proposisi George Homan ini, sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Herbert Blumer (1962), seorang tokoh teori interaksionisme simbolik, yang menunjuk kepada sifat khas  dari interaksi antar manusia. Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, tetapi didasarkan atas "makna" yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi antar individu, diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dan tindakan masing-masing. 

Jadi dalam proses interaksi manusia itu bukan suatu proses dimana adanya stimulus secara otomatis dan langsung menimbulkan tanggapan atau respon. Tetapi stimulus yang diterima dan respon yang terjadi sesudahnya, diantarai oleh proses interpretasi oleh si aktor. Jelas proses interpretasi ini adalah proses berpikir yang merupakan kemampuan khas yang dimiliki manusia.

Dengan demikian, merujuk pada proposisi George Homan yang ketiga dan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer (1962),  maka pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua, segera merespon dan mengambil langkah tegas dan konkrit menanggapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, tetapi jika tanpa adanya tindakan hukum, atau tindakan sosial yang nyata, maka suatu saat nanti akan muncul perlawanan dari masyarakat lainnya yang merasa dirugikan dengan fenomena musik DUGEM ini, yakni "menghentikan dengan caranya sendiri", karena sudah dianggap melengceng dengan etika, adat, moral dan norma agama yang berlaku di kota gerbang salam ini serta karena pemerintah sudah tidak lagi memiliki kewibawaan untuk menghentikan fenomena ini. 

Walaupun sebetulnya hal ini tidak perlu terjadi, jika semua pihak merespon fenomena ini dengan cepat, tepat dan cerdas. Inilah yang George Homan sebut sebagai konsep keadilan relatif (relative justice). Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah dosen STAIN Pamekasan dan Peserta Program Doktor Universitas Muhammadiyah Malang.

Kuliah Bela Negara TNI Sasar Mahasiswa Baru

Pamekasan (PWINews) - Kuliah umum tentang bela negara dan wawasan kebangsaan oleh Kodim 0826 Pamekasan ke berbagai kampus dengan sasaran mahasiswa baru di wilayah itu terus berlanjut.

Menurut Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto, kuliah umum wawasan kebangsaan dan bela negara dengan membidik mahasiswa baru sebagai sasaran penguatan wawasan kebangsaan dan bela negara.

"Penguatan wawasan kebangsaan dan bela negara perlu terus disosialisasikan untuk meningkatkan semangat patriotisme, dan semangat juang di kalangan pemuda dan mahasiswa, sebagai upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto dalam rilis yang disampaikan kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pamekasan, Minggu (18/9/2016) malam.

Ia menjelaskan, ancaman akan keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI akhir-akhir ini semakin kuat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, serta komunikasi dan informasi.

Bentuk penjajahan gaya baru perlu diwasapadai dan dipahami semua pihak, baik masyarakat secara umum dan kelompok elit intelektual pada khusus, yakni para pemuda terpelajar dan mahasiswa.

"Ini yang mendasari kami, melakukan sosialisasi kepada mahasiswa baru dengan memberikan kuliah umum tentang bela negara dan wawasan kebangsaan," katanya.

Dalam sepekan terakhir ini, Kodim menyampaikan kuliah umum di kampus berbeda di Pamekasan, yakni di Universitas Madura (Unira), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Khairat, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bhakti Bangsa.

Pada kuliah umum yang diikuti 527 mahasiswa baru di kampus STAI Al-Khairat Sabtu (17/9) Dandim Nuryanto mengemukakan pentingnya  mahasiswa memahami wawasan kebangsaan dan kedaulatan bangsa ini.

"Kemerdekaan bangsa ini diraih dengan taruhan nyawa oleh para pendahulu kita," katanya.

Maka, sebagai generasi penerus bangsa, mempertahankan kemerdekaan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi keharusan.

Dalam kesempatan itu, Dandim Nuryanto juga memaparkan, Indonesia sebenarnya kaya dengan sumber daya alam dan banyak negara asing yang telah mengincar kekayaan Indonesia.

"Untuk melakukan penjajahan seperti dulu, sudah tidak mungkin lagi dilakukan, karena telah menjadi kesepakatan semua negara di dunia ini, bahwa harus dihapus di muka bumi ini," katanya.

Maka, salah satu cara yang dilakukan oleh negara asing agar kembali bisa menguasai Indonesia adalah dengan bentuk penjajahan gaya baru.

Caranya dengan menguasai aset-aset sumber daya alam Indonesia yang memiliki potensi untuk kemakmuran rakyat Indonesia, semisal minyak bumi, gas dan lain sebagainya.

Asing bisa masuk dengan mudah di Indonesia, apabila situasi negara tidak kondusif dan rasa kebangsaan warga negara mulai terkikis.

"Oleh karena itu, mari kita semua ini menjadi penguasa di negara kita sendiri, jangan biarkan asing masuk ke negara kita dan mengelola kekayaan alam kita. Caranya tentu kita harus berilmu," kata Dandim.

Sementara, kuliah umum yang disampaikan Pasi Intel Kodim 0826 Pamekasan Kapten Inf Darminto di STIE Bhakti Bangsa ditekankan pada pentinga mewaspadai perang gaya baru dengan pemanfaatan dunia informasi dan teknologi atau yang disebut "Proxy War".

Darminto dalam kesempatan itu menjelaskan, "proxy war" merupakan perang modern dimana salah satu pihak senantiasa menggunakan pihak ketiga, tidak terlihat siapa lawan dan kawan dengan tujuan untuk mengacaukan situasi keamanan dan keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI.

Menurutnya, Indonesia adalah negara subur, dan makmur dengan memiliki potensi bercocok tanam sepanjang tahun yang kaya akan sumber daya alam. 

"Tapi karena sumber daya manusia kita belum memadai, maka kita masih tergantung terhadap negara asing," katanya.

Oleh karenanya, Darminto mengajak, mahasiswa sebagai generasi muda harapan masa depan bangsa hendaknya bisa diharapkan sebagai penerus estafet perjuangan bangsa, dengan cara memberantas berbagai bentuk penjajahan gaya baru, sehingga Indonesia benar-benar menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.

"Negara asing selalu menciptakan produk untuk merusak generasi pemuda mahasiswa dan menjadikan generasi yang tidak berkualitas yang disebut 'lost generation'. Ini harus kita perhatikan," katanya, menambahkan.

Di bagian akhir pemaparannya, Pasi Intel juga mengajak agar pemuda dan mahasiswa hendaknya harus selalu membangun karakter bangsa, cinta tanah air dan memiliki komitmen tinggi ikut bela negara dan menjaga keutuhan NKRI sebagai wujud tanggung jawab atas komitmen perjuangan yang telah dilakukan para pendahulu dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia. (PWI/Kodim Pamekasan)

41 Tim Volly Berebut Piala Dandim Cup 2016

Pamekasan (PWINews) - Sebanyak 41 tim bola volly di Kabupaten Pamekasan siap berebut Piala Dandim Cup 2016 dalam ajang kompetisi yang akan digelar mulai 19 September 2016 ini.

"Saya ingin pelaksanaan pertandingan nanti berjalan sportif, tidak ada kecurangan dan situasi Pamekasan tetap kondusif," kata Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Inf Nuryanto saat memberikan pengarahan pada rapat technical meeting di ruang rapat Makodin 0826 Pamekasan, Sabtu (17/9/2016).

Hadir juga dalam rapat itu, perwakilan PBVSI Pamekasan Daut Spd, Ketua Komisi Wasit PBVSI Pamekasan Anwari, Pasiter Kodim 0826/Pamekasan Kapten Arh Ariman SH, dan Ketua Tim Peserta Pertandingan, yakni 29 tim putra dan 12 tim putri.

Ketua penyelenggara pertandingan Pasiter Kapten Arh Ariman menjelaskan, peserta pertandingan dalam Kompetisi Dandim 0826/Pamekasan adalah tim yang telah teregistrasi dalam PBVSI Pamekasan.

"Bagi tim yang belum memenuhi persyaratan tersebut tidak dapat mengikuti pertandingan," katanya.

Sementara pihak PBVSI Pamekasan menjelaskan, teknik pelaksanaan dan ketentuan yang harus dipatuhi dalam pertandingan itu. Antara lain peserta pertandingan telah teregistrasi di PBVSI Pamekasan.

"Jumlah peserta dalam 1 Tim sebanyak 11 orang," katanya.

Panitia juga menjelaskan tentang ketentuan bagi tim yang akan mengambil pemain dari luar Kabupaten Pamekasan, berikut waktu pertandingan dan pertandingan tunda.

Sebelum Pertandingan Official harus menandatangi formulir skor, dan ketentuan penggunaan Lebero bagi Peserta Pertandingan, berikut ketentuan Pelanggaran dan penilaian dalam permainan juga dijelaskan dalam rapat itu. (PWI/Kodim Pamekasan)

Babinsa Gladak Anyar Bersihkan Pekarangan Kelurahan

Pamekasan (PWINews) - Babinsa Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan bergotong royong bersama masyarakat sekitar dan aparat kelurahan membersihkan pekarangan dan sekitar kantor kelurahan.

"Ini bagian dari bakti TNI untuk masyarakat, negara dan bangsa ini, selain menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini," kata Babinsa Gladak Anyar Serda Kusbianto dalam acara ngopi bareng di Pamekasan, Sabtu (17/9/2016) malam.

Ia menjelaskan, akhir-akhir ini sikap gotong royong diantara sesama masyarakat cenderung mulai memudar.

TNI, kata dia, harus menjadi pemimpin dalam mengajak dan memulihkan semangat gotong royong itu, sehingga nilai-nilai ke-Indonesia tetap terjaga di masyarakat.

Bakti sosial yang digelar TNI bersama masyarakat, khususnya Babinsa setiap Jumat pagi.

Kusbianto menjelaskan, sebenarnya kelurahan mampu untuk membayar kuli membersihkan sekitar kantor kelurahan.

Hanya saja yang perlu dikampanyekan kepada masyarakat adalah sikap gotong-royong antarsesama, sehingga kegiatan bakti sosial membersihkan sekitar kantor Kelurahan Gladak Anyar pada 16 September 2016 itu sekaligus sebagai bentuk kampanye kepada masyarakat. (PWI/Kodim Pamekasan)

Babinsa Perkuat Komunikasi Sosial dengan Masyarakat

Pamekasan (PWINews) - Babinsa memperkuat komunikasi sosial dengan masyarakat sebagai upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah itu.

Komunikasi sosial yang dilakukan TNI, tidak hanya untuk menjaga situasi dan kondusif akan tetapi juga berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan di kalangan masyarakat.

Salah satunya seperti yang dilakukan Babinsa di Desa Sana Laok, Kecamatan Waru Koptu Nurddin JUmat (16/9/2016).

Babinsa ini sengaja datang ke rumah-rumah warga, yakni pada pimpinan kelompok tani di desa itu bersama PPL Waru Adim Sarjono guna mengajak dan mendiskusikan persoalan peningkatan produksi hasil pertanian dengan masyarakat di desa itu.

Dalam kesempatan itu babinsa dan ppl memberikan pengertian kepada kapoktan agar lebih bisa  memilih tanaman yang cocok untuk di tanam di musim yang sudah mulai kemarau ini,tanaman yg bisa langsung di konsumsi seperti sayuran, buah buahan agar lahan atau ladang tidak menjadi lahan tandus karena kekurangan air.

"Masyarakat butuh perhatian. Makanya kami selalu meluangkan waktu untuk datang, bertandang ke rumah-rumah mereka hanya untuk mendiskusikan persoalan pertanian," kata Koptu Nuruddin kepada PWI Pamekasan, Sabtu (17/9/2016).

Pendekatan secara langsung kepada masyarakat sebagaimana dilakukan Koptu Nuruddin inilah yang menjadi pemicu bagi kelompok tani mau mengindahkan imbauan yang disampaikan penyuluh. (Kodim/PWI Pamekasan)

Kades Pamekasan Dorong Proses Hukum Pencatutan PWI

Pamekasan (PWINews) - Sebagian kepala desa di Kabupaten Pamekasan mendorong pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memproses secara hukum pencatutan nama PWI oleh warga bernama M Syafii dalam undangan resepsi pernikahan putrinya yang kini menyebar luas di kalangan pejabat dan anggota DPRD Pamekasan.

Dorongan memproses secara hukum oleh sebagian kepala desa itu, karena mereka mencurigai, pencaturan nama PWI di undangan resepsi pernikahan tersebut, untuk mengeruk keuntungan pribadi.

"PWI ini kan organisasi profesi resmi wartawan yang ada sejak dulu dan diakui oleh negara. Kok seenaknya pakai nama PWI di undangan manten, wong anggota PWI saja nikah tidak ada yang mencantumkan sebagai anggota PWI, apalagi dia memang bukan anggota PWI," kata juru bicara kepala desa di Kecamatan Pakong Moh Mukri kepada pengurus PWI Pamekasan, Jumat (16/9/2016).

Sebagaimana kecurigaan sebagaian pengurus PWI Pamekasan, Kepala Desa Bajang, Kecamatan Pakong ini juga berpandangan sama, yakni nama PWI sengaja dicatut untuk mengeruk uang pada resepsi pernikahan putrinya M Syafii yang dalam undangan yang tersebar luas itu tercantum hendak digelar pada pukul 08.00 WIB pada 18 September 2016. [Baca Juga: PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Catut Nama PWI]

"Laporkan saja ke polisi, biar ada efek jera," kata Moh Mokri yang juga mantan Bendahara PWI Pamekasan periode 2014-2015 itu.

Undangan resepsi pernikahan yang mencatut nama PWI ialah pernikahan antara Wulan Sari, putri dari pasangan suami istri M Syafii-Sumini warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan dengan Doni Demara, putra pasangan suami istri Moh Soleh-Subaidah, Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan.

Dalam undangan yang tersebar luas di masyarakat itu dijelaskan, bahwa pesta pernikahan keduanya akan digelar pada 18 September 2016 pukul 08.00 WIB pagi di Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, yakni di rumah M Syafii yang mencatut nama PWI itu. 

Pengurus PWI Pamekasan sudah berulang kali menghubungi nomor telepon M Syafii di nomor 087-701-923-002 dan 082-333-508-440 yang tercantum di undangan itu untuk mengklarifikasi maksud dibalik pencaturan nama PWI, namun tidak diangkat. [Baca Juga: Tak Ada Pengurus Bernama Syafii]

Selain mencatut nama PWI, M Syafii juga mengaku sebagai pengurus PWI Jatim dengan jabatan sebagai Kepala Perwakilan Media Hukum dan Kriminal Borgol PWI JATIM. Padahal jabatan itu tidak ada di PWI Jatim dan status jabatan di organisasi profesi itu bukan kepala, akan tetapi ketua. (PWI Pamekasan)

PWI Jatim: Tak Ada Pengurus Bernama Syafii

Pamekasan (PWINews) - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Akhmad Munir menyatakan, tidak ada pengurus bernama M Syafii dari media borgol dan tidak ada nama jabatan Kepala Perwakilan.

"Tidak ada jabatan kepala perwakilan dalam susunan kepengurusan PWI Jatim dan tidak ada pengurus PWI Jatim bernama M Syafii dari media borgol," kata Akhmad Munir kepada pengurus PWI Pamekasan per telepon, Kamis malam.

Ketua PWI Jatim mengemukakan hal itu, mengklarifikasi pencatutan nama PWI oleh M Syafii warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, dalam undangan resepsi pernikahan putrinya Wulan Sari yang tersebar di kalangan pejabat dan anggota DPRD Pamekasan.

Dalam undangan resepsi pernikahan itu, M Syafii menyebutkan dirinya Kepala Perwakilan Media Hukum dan Kriminal Borgol PWI Jatim dan undangan itu disebar luas kepada kalangan pejabat dan anggota DPRD Pamekasan meski pejabat yang diundang itu tidak mengenalnya.

Di undangan resepsi pernikahan putrinya yang mencatut nama PWI itu, M Syafii juga mencantumkan dua nomor telepon, yakni 087-701-923-002 dan 082-333-508-440 yang tidak lumrah bagi masyarakat Madura, termasuk masyarakat Pamekasan.

Kepada pengurus PWI Pamekasan Kepala Biro Perum LKBN Antara Jatim ini juga meminta agar menyelidiki motif dibalik pencatutan nama dan pengakuan sebagai pengurus PWI Jatim oleh M Syafii dalam undangan resepsi pernikahan yang kini banyak menyebar di kalangan pejabat di lingkungan Pemkab Pamekasan itu. [Baca Juga: PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Catut Nama PWI]

Undangan resepsi pernikahan yang mencatut nama PWI ialah pernikahan antara Wulan Sari putri dari pasangan suami istri M Syafii-Sumini warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan dengan Doni Demara Putra pasangan suami istri Moh Soleh-Subaidah, Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan.

Dalam undangan yang tersebar luas di masyarakat itu dijelaskan, bahwa pesta pernikahan keduanya akan digelar pada 18 September 2016 pukul 08.00 WIB pagi di Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, yakni di rumah M Syafii yang mencatut nama PWI itu. (PWI Pamekasan)

Babinsa Bantu Perbaiki Rumah Warga Roboh

Pamekasan (PWINews) - Kodim 0826 Pamekasan menerjunkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) guna membantu memperbaiki rumah warga yang roboh di Desa Kadur, Kecamatan Kadur.

Menurut Pasi Intel Kodim 0826 Pamekasan Kapten Inf Darminto, rumah warga yang roboh itu milik pasan suami istri Darmo (70) dan Jamina (65) warga Dusun Berkongan, Desa Kadur, Kecamatan Kadur.

"Kejadiannya pada tanggal 14 September 2016 kemarin, dan rumah itu roboh karena memang lapuk dimakan usia," katanya dalam rilis yang disampaikan kepada media di Pamekasan, Jumat pagi.

Darminto menjelaskan, tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Selain rumah, kandang sapi yang berdempetan dengan rumah Darmo juga roboh.

"Makanya Kodim melalui Posramil Kadur langsung menerjunkan babinsa membantu memperbaiki rumah dan kandang sapi milik warga yang roboh itu," katanya, menjelaskan.

Menurut babinsa setempat Serda Jufriyadi, selain dari kalangan TNI, sejumlah aparat desa bersama masyarakat sekitar juga bergotong royong membantu memperbaiki rumah Darmo-Jamina yang roboh itu. (PWI/Kodim Pamekasan)

PWI Pamekasan Klarifikasi Undangan Manten Catut Nama PWI

Pamekasan (PWINews) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Madura mengklarifikasi pencatutan nama PWI pada undangan resepsi pernikahan keluar M Syafii yang kini menyebar luas di kalangan pejabat dan anggota DPRD Pamekasan.

Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz dalam keterangan persnya di kantor PWI Jalan Panglima Sudirman Nomor 4 Pamekasan, Kamis (15/9/2016) menjelaskan, pencatutan nama PWI pada undangan pada keluarga M Syafii merugikan organisasi profesi yang dipimpinnya, karena hal itu tidak dibenarnya menggunakan label tersebut, selain untuk kepentingan organisasi profesi jurnalistik.

"Mencantumkan label PWI untuk kepentingan keluarga seperti manten, sangat tidak etis dan itu tidak dibenarkan dalam etika organisasi," katanya, sembari menunjukkan undangan dimaksud.

Ia juga menjelaskan, M Syafii bukan anggota PWI, baik PWI Pamekasan maupun PWI Jatim. Di data base keanggotaaan PWI tidak ada nama M Syafii dari media Borgol.

Menurut Abd Aziz, keanggotaan PWI sudah tercantum jelas dalam situs resmi PWI, baik PWI Pamekasan maupun PWI Jatim dan maupun pusat.

"Kami ini memiliki website yang menjadi situs resmi PWI Pamekasan yakni di laman pwipamekasan.com," katanya.

Menurut Abd Aziz di situs itu, semua anggota PWI Pamekasan sudah tercantum dengan terjelas, yakni 22 anggota dan seorang staf administrasi. Jumlah keanggotaan PWI Pamekasan tertuang pada lama: http://www.pwipamekasan.com/2015/09/26/anggota-pwi-pamekasan-2015/.

"Jadi disitu jelas tidak ada nama M Syafii," katanya.

Untuk keanggotaan PWI di tingkat provinsi dan pusat, terdata secara online di situs pwipress.org dan pwi.or.id.

Pewarta Perum LKBN Antara ini menjelaskan, pihaknya secara kelembagaan perlu mengklarifikasi beredarkan undangan pesta pernikahan keluarga M Syafii yang mencatut nama PWI itu, karena undangan itu telah menyebar luar kepada kalangan pejabat dan anggota DPRD di lingkungan Pemkab Pamekasan.

"Pejabat yang tidak kenal diapun, dia undang. Kabarnya yang saya terima, undangan ini bahkan juga menyebar ke camat-camat dan aparat desa. Ini kan sudah tidak biasa, kalau seperti itu," katanya.

Abd Aziz mengaku, dirinya curiga, orang bernama M Syafii yang mencantumkan sebagai Kepala Perwakilan PWI Media Borgol Jatim itu, sengaja mencantum nama PWI pada undangan mantennya untuk mendapatkan perhatian khusus.

"Wong anggota PWI sendiri nikah kita larang mencantumkan label PWI. Ini malah orang lain yang tidak jelas asal muasalnya, bukan anggota, malah mencatut nama PWI," katanya dengan nada kesal.

Undangan pernikahan yang mencatut nama PWI ialah pernikahan antara Wulan Sari putri dari pasangan suami istri M Syafii-Sumini warga Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan dengan Doni Demara putra pasangan suami istri Moh Soleh-Subaidah, Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan.

Dalam undangan yang tersebar luas di masyarakat itu dijelaskan, bahwa pesta pernikahan keduanya akan digelar pada 18 September 2016 pukul 08.00 WIB pagi di Dusun Utara, Desa Bulangan Branta, Kecamatan Pegantenan, yakni di rumah M Syafii yang mencatut nama PWI itu. (Rilis PWI Pamekasan)