Ada Kontes Kecantikan Sapi di Pamekasan

Pasean (PWINews) - Kontes kecantikan ternyata tidak hanya untuk manusia, tetapi ada juga kontes kecantikan untuk sapi. Seperti kontes kecantikan sapi yang biasa disebut oleh warga di Pulau Madura dengan sebutan kontes sapi sonok.

Sebanyak 73 pasangan sapi betina, bersaing menjadi pasangan sapi yang tercantik, dalam konteks sapi sonok yang digelar masyarakat penggemar sapi di lapangan Desa Sotabar, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (7/8/2018).

Menurut Panitia Penyelenggara Kontes Sapi Sonok Nasuki, kontes sapi cantik itu merupakan tradisi lama dan sudah dikenal sejak dulu.

"Tradisi seni kecantikan sapi ini merupakan tradisi asli Pamekasan bahkan telah memiliki hak paten di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Madura," kata Nasuki yang juga Kepada Desa Sotabar itu.

Sapi-sapi itu dipajang berpasangan. Dengan iringan musik "saronen", yakni musik khas Madura, sapi-sapi itu dilepas secara bersamaan berjalan diatas lintasan sepanjang 200 meter.

Dewan juri menilai gerak langkah sapi yang sesuai dengan irama gamelan musik, dan keindahan pakaian sapi.

"Syaratnya harus berjalan lurus dan tidak boleh melebihi garis batas yang telah ditetapkan," terang Nasuki.

Jika, kaki sapi menyenggol garis pembatas, maka nilainya akan dikurangi sepuluh, dan pasangan sapi harus bisa masuk gelanggang dengan sempurna.

Kontes kecantikan sapi yang oleh masyarakat Pamekasan dikenal dengan sebutan Sapi Sonok ini, menarik minat masyarakat Madura.

Sebab, selain mengedepankan unsur seni, apalagi pasangan sapi selalu diiringi masuk saronen, dalam konteks sapi sonok ini tidak terlihat adanya unsur kekerasan, sebagaimana karapan sapi.

"Budaya asli Madura ini memang perlu dilestarikan, dan dalam kontes 'Sapi Sonok' memang lebih mengedepankan seni," kata Ketua DPRD Pamekasan Halili yang datang secara langsung menyaksikan kontes Sapi Sonok itu.

Hadir juga dalam kegiatan itu, Komandan Kodim 0826 Pamekasan Letkol Arma Mawardi dan Kapolres Pamekasan AKBP Nuwo Hadi Nugroho.

Dandim dan Kapolres bahkan ikut memakai "Baju Pesak" yakni baju khas Madura dengan warga serba hitam dan kaos berwarna merah putih.

Tidak hanya itu, Dandim bahkan sempat menemani "sang putri sapi", istilah bagi perempuan yang mendampingi pasangan sapi saat kontes berlangsung dari garis star ke garis finis. 

Layaknya penikmat musik saronen, Dandim juga sempat dikalungi selendang oleh sang putri sapi, agar bisa ikut memeriahkan seni budaya tradisional itu, dan menari bersama mereka.

Kontes sapi sonok itu, berakhir pada pukul 17.10 WIB dengan pelaksanaan berjalan dengan tertib dan lancar. (PWI/Kodim Pamekasan)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »